Telepon Umum Koin, Riwayatmu Kini…

By | February 7, 2015

Di era awal tahun 90-an, keberadaan telepon umum koin sangat membantu masyarakat dalam urusan soal berkomunikasi. Saat itu, dengan uang koin seratus rupiah, kita sudah bisa menelpon ke telepon rumah untuk beberapa menit. Ya, bisa untuk beberapa menit. Karena telepon koin di desain hanya bisa digunakan untuk menelpon lokal dan tidak untuk interlokal. Maka tarifnya murah. Jika ingin menelpon interlokal, maka satu-satunya jalan jika tidak memiliki telepon rumah sendiri ya harus ke wartel (warung telekomunikasi).

Telepon Umum Koin

Telepon Umum Koin, yang nasibnya kian merana… (Diambil di seputaran Kota Metro, Lampung)

Seiring dengan berkembangnya ilmu dan teknologi, PT. Telkom sebagai satu-satunya vendor telekomunikasi kabel di Indonesia kala itu terus berinovasi. Salah satunya adalah dengan mengeluarkan semacam kartu prepaid, yang dengan kode tertentu memungkinkan seseorang untuk menggunakan telepon koin untuk menelpon interlokal. Dengan kartu itu pula, jika seseorang akan meminjam telepon rumah seseorang, maka ia tidak akan membebani biaya telepon ke si pemilik.

Wajib dibaca!  Ketika Demam Batu Akik Melanda Dunia

Jaman terus berubah dan terus berubah dengan begitu pesatnya. Hingga seperti sekarang ini. Mau telepon tinggal pencet HP. Sambil tiduran pun bisa. Kepemilikan handphone pun kini satu orang kadang tidak cukup hanya punya 1, bahkan bisa lebih. Tidak hanya telepon dan SMS saja, kini mengakses internet pun begitu mudahnya. Semua bisa dilakukan dari genggaman tangan dan tanpa susah-susah keluar rumah. Kecuali pulsanya habis… 😆 Lalu bagaimana nasibnya si Telepon Umum Koin yang dipinggir jalan itu?

Nasibnya kini merana. Gagang telepon sudah tidak lagi ia punyai. Entah hilang kemana. Bercak karat di sana-sini menghiasai tubuhnya. Semua orang seolah sudah memperdulikan keberadaannya. Dan bisa jadi, 10 atau 20 tahun yang akan datang, jika ia masih tegak berdiri di pinggir jalan, maka anak-anak kita yang masih kecil akan bertanya… Itu benda apa sih, pak?

Berkaca dari fenomena telepon umum koin, maka ada beberapa hikmah yang bisa kita ambil.

Wajib dibaca!  PrivatYuk.com; Sarana Ketemuan Les Privat Guru dan Murid

1. Disaat kita menjadi “Raja” atau penguasa tunggal, sebagaimana kuasanya “telepon umum koin” pada masa jayanya dahulu, sadarlah kita bahwa itu semua akan ada akhirnya. Akan ada “penguasa” baru yang siap menggantikan posisi kita. Semua tinggal menunggu waktu.

2. Rasa puas berbangga diri itu tidak ada artinya. Karena semua itu akan terlibas seiring dengan berjalannya waktu. Bisa jadi, suatu saat nanti, kita yang dahulunya adalah “orang penting”, maka suatu saat nanti kita akan menjadi orang yang tidak ada artinya sama sekali.

So, jika kini kita sedang diberi kelebihan kemampuan, rejeki, tenaga dari Allah SWT, maka mari kita gunakan itu dengan sebaik-baiknya. Gunakan apa yang kita miliki agar memiliki manfaat bagi lingkungan sekitar. Terus dan terus tebar manfaat ke sebanyak mungkin orang lain agar kita tetap hidup, meskipun raga kita telah mati. Karena kita adalah manusia dan bukan benda mati sebagaimana telepon umum koin itu.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *